Terik mentari tengahhari
Belum mampu memaksa ku mengangkat kaki
Keringant menitis dari dahi ke kaki
Ku rela berjemur menanti
Agar semua jelas dan pasti
Tiada yang dusta lagi
Menanti pencerahan diterik menteri
Terbakar tak ku peduli
Asalkan semua persoalan terjawab nanti
Walau ia perlu seribu detik lagi
Jiwa ku keras laksana keluli
Cuma yang ku takutkan hanya hati
Jemur ini boleh sebabkan dia mati
Nukilan Orang Hati. Sisinya Gelap Tidak Kelihatan. Dikenali Tapi Tak Pernah Dierti. Ramai Tapi Tetap Sendiri. Gembira Tapi Tak Pernah Terisi. Mendakap Realiti Dalam Mimpi, Benar Tapi Penuh Palsu. Hilang Dalam Terang. Sembunyi Dalam Gelap........Cinta Itu Inspirasinya
Tuesday, December 31, 2013
Cinta Yag Tertunggu
Sunggup ku perlu beribu tahun
Untuk setia tidak terbangun
Bagi mencinta tanpa mohon
Walau deras batu hujan turun
Melukai tubuh tak terampun
Segalanay untuk cinta yang tersantun
Wahai cinta
Kan ku tunggu mu selamanya
Walau waras terpencil lama
Dalam nadi yang terhenti kerja
Ku tahu kau selalu ada
Mengintai aku dari kelarutan senja
Dalam basah hujan hiba
Takkan ku patah semangat waja
Dalam godaan halus menduga
Cinta yang tertunggu
Dalam dakapan pilu
Kan ku setia dalam temu
Agar bahagia sekalian padu
Aku yakin....itu sudah tentu
Aku percaya...itu telah perlu
Untuk setia tidak terbangun
Bagi mencinta tanpa mohon
Walau deras batu hujan turun
Melukai tubuh tak terampun
Segalanay untuk cinta yang tersantun
Wahai cinta
Kan ku tunggu mu selamanya
Walau waras terpencil lama
Dalam nadi yang terhenti kerja
Ku tahu kau selalu ada
Mengintai aku dari kelarutan senja
Dalam basah hujan hiba
Takkan ku patah semangat waja
Dalam godaan halus menduga
Cinta yang tertunggu
Dalam dakapan pilu
Kan ku setia dalam temu
Agar bahagia sekalian padu
Aku yakin....itu sudah tentu
Aku percaya...itu telah perlu
Labels:
puisi
Immortal Love Song
Tak pernah ku sangka
Aku bisa merasakan cinta sejati
Dan tak pernah benar-benar mencintai
Manusia di bumi ini
Hingga apapun akan ku beri
Untuk kamu, kamu, kamu
Dan tak pernah aku meminta
Balasan semua, semua, semua
Courtesy of liriklagu.asia
Tuhan pun tahu jikalau aku
Mencintai dirimu tak musnah oleh waktu
Hingga maut datang menjemputku
Ku tetap menunggu kamu di lain waktu
Hingga apapun akan ku beri
Untuk kamu, kamu, kamu
Dan tak pernah aku meminta
Balasan semua, semua, semua
Tuhan pun tahu jikalau aku
Mencintai dirimu tak musnah oleh waktu
Hingga maut datang menjemputku
Ku tetap menunggu kamu di lain waktu
Tuhan pun tahu jikalau aku
Mencintai dirimu tak musnah oleh waktu
Hingga maut datang menjemputku
Ku tetap menunggu kamu di lain waktu
(Tuhan pun tahu) Tuhan pun tahu (jikalau aku) jikalau aku
(mencintai dirimu) mencintaimu (tak musnah oleh waktu) tak musnah oleh waktu
(hingga maut) hingga maut (datang menjemputku) menjemputku
(ku tetap menunggu kamu di lain waktu) di lain waktu
Saturday, December 28, 2013
Petikan Kata
Dan saya adalah serigala yang gelisah. Yang ingin mengembara di hutan-hutan yang jauh, tetapi juga merasa usia menahan kita setiap hari. Sebuah dunia yang lain, dunia yang manis dan tak serius - Soe Hok Gie, Sabtu 5 July 1969, Catatan Seorang Demonstran
Friday, December 27, 2013
Sakti Diri Mati
Tak berdarah tika dimaki
Boleh hidup terdalam mati
Melompat setinggi mimpi
Terbenam sedalam hari
Halimunan dalam halusinasi
Petah berkata tak kering gusi
Siapalah aku ini?
Akulah raja sakti diri
Dalam dunia yang kurang memberi
Bila hidup tapi takut mati
Hiasan dunia masih tidak mencukupi
Walau berjuta telah memberi
Akulah raja sakti diri
Yang lupa pada janji sendiri
Menyapa dengan kuku besi
Hati kau tidak aku peduli
Aku tak mahu mati lagi
Ini aku punya sakti
Aku tak akan mati
Walau nyawa di halkum kini
Aku tak akan mati
Aku tak akan mati
Aku tak akan mati
Aku tak mahu mati
Aku................kembali kepada rahmatnya kini
Boleh hidup terdalam mati
Melompat setinggi mimpi
Terbenam sedalam hari
Halimunan dalam halusinasi
Petah berkata tak kering gusi
Siapalah aku ini?
Akulah raja sakti diri
Dalam dunia yang kurang memberi
Bila hidup tapi takut mati
Hiasan dunia masih tidak mencukupi
Walau berjuta telah memberi
Akulah raja sakti diri
Yang lupa pada janji sendiri
Menyapa dengan kuku besi
Hati kau tidak aku peduli
Aku tak mahu mati lagi
Ini aku punya sakti
Aku tak akan mati
Walau nyawa di halkum kini
Aku tak akan mati
Aku tak akan mati
Aku tak akan mati
Aku tak mahu mati
Aku................kembali kepada rahmatnya kini
Labels:
puisi
Subscribe to:
Posts (Atom)